Sabtu, 06 Juni 2009

Bubak Kawah, Upacara

Jika mempelai wanita kebetulan mbarep (anak sulung), biasanya dilakukan upacara bubak kawah di depan gapura. Sebaliknya kalau mempelai wanita kebetulan ragil (anak bungsu), biasanya dilakukan upacara numplak punjen. Bubak Kawah berasal dari kata bukak membuka dan kawah air dari dalam kandungan. Jadi bubak kawah merupakan detik pertama kali seseorang mempunyai hajat mantu. Bubak kawah juga merupakan wejangan seksual secara perlambang agar mempelai laki-laki tidak merasa kesulitan dalam menjalankan tugas luhur.

Perlengkapan upacara bubak kawah berupa dua buah kendhaga (klenthing) – yakni kendhaga kencana dan kendhaga mulya, kelapa muda, dan mori putih. Dua kendhaga diisi kelapa muda yang telah disisir. Sebelum disisir, kelapa muda dibelah menjadi dua, yang merupakan perlambang hubungan seks pertama, kendhaga ditutup dengan kain mori putih (lambang selaput dara). Proses pembukaan kain mori harus dilakukan dengan hati-hati dan diiringi pembacaan doa (mantra). Ketika kendhaga dalam keadaan terbuka akan tampak dua cahaya (merah dan putih) memancar. Cahaya merah dan putih yang muncul dari air degan (gegantilaning ati) tersebut merupakan perlambang cahaya kama laki-laki, dinamakan cupu adi mandhalika, dan kama wanita, disebut cupu manik astagina.

Upacara bubak kawah juga sering ditandai dengan ular-ular (uraian petuah) yang memuat ajaran seksual kelas tinggi, misalnya uraian tentang makna sesaji tumpeng kidang soka maharetna yang berupa nasi putih dengan puncak ditancapi bendara merah putih. Tumpeng kidang soka maharetna mengandung ajaran Sastra Cetha Piningit bagi pengantin. Kidang Soka adalah gambaran kedua mempelai yang sedang karonsih memadu cinta dan maha retna dengan cahaya Tuhan. Dengan demikian, agar dalam bersenggama mendapat ridla Tuhan, kedua mempelai harus memperhatikan tujuh aturan, yakni (1) pandai mencari waktu yang tepat; (2) tepat dalam memilih tempat; (3) teguh dalam sembah, artinya selalu ingat kepada Tuhan; (4) waspada ing sliring, artinya tanggap terhadap kondisi psikologis pasangan, jangan sampai ada yang merasa terpaksa; (5) waspada ing pratiwi; selalu kembali kepada Tuhan (6) waspada ing luluh, mengendalikan hawa nafsu; (7) waspada ing tuwuh, berusaha mendapatkan keturunan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar