Tampilkan postingan dengan label Z. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Z. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2009

Zubair Muchsin, Rumah

Rumah tradisional Kotagede, yang memiliki nilai arsitektur Jawa yang unik. Rumah ini didirikan oleh H. Mukmin pada tahun 1865 M. H. Mukmin adalah seorang pedagang kain dan lawe serta agen mori “cap sen”. Setelah diwariskan kepada putranya H. Zubair Muchsin, usahanya terus berkembang dan merupakan salah satu yang terbesar di antara 43 pedagang sejenis di Kalurahan Sayangan. Pada waktu didiami H. Mukmin rumah tersebut juga digunakan sebagai tempat pelayanan usaha dan kegiatan keagamaan. Akan tetapi, setelah diwariskan kepada H. Zubair Muchsin sampai saat ini hanya digunakan sebagai tempat tinggal dan aktivitas keagamaan Islam.

Terletak di Dusun Buharen RT 33/RW 8, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kodya Yogyakarta. Berdiri di atas tanah seluas 1072m2, dikelilingi pagar tembok setinggi 2,25 m. terdapat dua buah pintu masuk ke halaman. Pintu sebelah selatan berukuran lebar 1,62 m dan tinggi 2 m. Sedangkan pintu utara berukuran lebar 1 m dan tinggi 1,72m.

Kompleks ini mempunyai beberapa bangunan yaitu langgar, pendapa, pringgitan, dalem, gandok kiwo dan gandok tengen, dapur dan bangunan pelengkap lainnya.

Zubair Muchsin

Seorang tokoh Muhammadiyah Kotagede. Zubair Muchsin adalah putra dari H. Muchsin, seorang pedagang kaya Kotagede. H. Muchsin bersaudara dengan H. Masyhudi, keduanya adalah putra H. Mukmin. Kekayaan ayahnya, H. Muchsin digunakan untuk membiayai pendidikan Zubair di Kairo, Mesir. Pada saat itu, ia bersama-sama dengan M. Rasjidi belajar di Kairo. Selain Zubair, saudaranya bernama Djalal Muchsin juga mengenyam pendidikan di Kairo, Mesir.

Zoo Gab De Wereld

Tulisan yang terdapat pada permukaan Watu Gilang berhuruf gedrik (cetak) yang artinya bahasa Belanda.

Ziarah Kubur Panembahan Senapati

Diartikan menabur bunga (sekar) ke makam Panembahan Senapati di Pasareyan Kotagede. Biasanya dilakukan pada bulan ruwah (yang berarti arwah), sebagai bagian dari tradisi untuk membersihkan diri menjelang bulan puasa (bulan suci Ramadhan). Menurut kepercayaan Jawa, orang yang telah meninggal, pada bulan ruwah dating untuk menengok familinya yang masih hidup. Pada saat nyekar bunga yang biasa ditaburkan ke makam adalah bunga mawar, kenanga, melati dan kanthil.

Pasareyan Kotagede sebagai tempat persemayaman Panembahan Senapati menjadi tempat ziarah bagi masyarakat luas, baik dari Yogyakarta maupun dari daerah lain. Para peziarah harus mengenakan pakaian khusus dalam menjalankan ritual di pasareyan Kotagede. Pakaian yang dikenakan untuk ziarah ke makam sesuai dengan peraturan keraton, yaitu bagi peziarah khusus wanita diwajibkan mengenakan kain, kemben, tanpa baju dan sanggul gelung tekuk. Sedangkan bagi peziarah khusus pria mengenakan kain, ikat kepala blangkon, dan baju pranakan atau tidak mengenakan baju (telanjang dada).