Tampilkan postingan dengan label W. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label W. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Mei 2009
Wungkal
Peralatan yang yang digunakan dalam industri kerajinan logam tembaga, yang terbuat dari batu berfungsi untuk mengasah alat-alat yang digunakan.
Wungon
Salah satu jenis puasa di lingkungan masyarakat Jawa (Kejawen), yang disebut juga puasa pamungkas, dimana yang menjalaninya tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.
Wrana
Juga biasa disebut rana, kelir dan aling-aling¸ adalah dinding tembok yang posisinya berada di belakang pintu atau regol, berfungsi sebagai penghalang fisik dan visual dari wilayah luar ke wilayah dalam atau dari zona public ke privat.
Selain fungsi penghalang pandangan langsung tersebut, dengan membelokkan sifat/sumbu visual, secara simbolik wrana bertindak sebagai pencegah datangnya marabahaya dari luar. Oleh karena itu keberadaan wrana sering dikombinasi dengan sejumlah perangkat tolakbala lainnya. Di Masjid Mataram Kotagede, terdapat sejumlah kemamang atau kala (topeng atau wajah raksasa) pada badan dinding tembok. Ini merupakan cara penyelesaian yang biasa dilakukan dari masa pra-Islam.
Selain fungsi penghalang pandangan langsung tersebut, dengan membelokkan sifat/sumbu visual, secara simbolik wrana bertindak sebagai pencegah datangnya marabahaya dari luar. Oleh karena itu keberadaan wrana sering dikombinasi dengan sejumlah perangkat tolakbala lainnya. Di Masjid Mataram Kotagede, terdapat sejumlah kemamang atau kala (topeng atau wajah raksasa) pada badan dinding tembok. Ini merupakan cara penyelesaian yang biasa dilakukan dari masa pra-Islam.
Wong Kalang
Pada awalnya wong kalang hidup di beberapa tempat, dan tersebar di Pulau Jawa, terutama di beberapa di daerah Jawa Tengah. Mereka mengembara dari hutan ke hutan yang lain. Di Jawa Tengah, wong Kalang terdapat di daerah: Sragen, Sala, dan Prambanan. Sedang di Yogyakarta wong kalang ini terdapat di Tegalgendhu Kotagede. Wong Kalang di Kotagede ini, dikumpulkan dan bertempat tinggal tetap pada waktu pemerintahan Sultan Agung (kurang lebih tahun 1640). Saat ini sudah sangat sulit untuk membedakan wong Kalang dengan penduduk Kotagede pada umumnya. Namun apabila dicermati, dapat ditemukan adat kebiasaan dan tabiat yang berbeda dari wong-wong Kalang tersebut. Wong Kalang biasanya menggunakan barang-barang dari emas dan berlian yang mewah, dan berbeda dengan penduduk Kotagede pada umumnya pada waktu menghadiri pesta maupun perjamuan yang lain.
Wong Kalang di Kotagede yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Kalang Obong (geseng) dan Kalang Kamplong. Kalang Kobong mempunyai kebiasaan membakar boneka sebagai lambang orang yang telah meninggal, pada hari keseribu (nyewu). Golongan Kalang sebenarnya sudah dikenal dalam prasasti Jawa Kuna. Prasasti Harinjing A (804 M), misalnya menyebut tuha kalang (ketua kelompok kalang), selain itu disebut pula dalam prasasti Panggumulan (904 M) dengan istilah Pandhe Kalang (tukang kayu).
Pada abad XVII sebutan wong kalang muncul lagi, yaitu ketika Sultan Agung membuat wong kalang menetap di Jawa Tengah pada tahun 1636. Catatan bangsa Eropa tentang golongan ini antara lain adalah bahwa mereka yang berada di Rembang dan Pati waktu itu bekerja sebagai penebang pohon. Catatan lain lebih memperjelas keberadaan mereka di Jawa tengah, yaitu menebang dan mengangkat kayu; membuat “gorab” dan kapal perang; mereka juga memiliki sejumlah ketua yang salah satunya bergelar Tumenggung.
Gelombang kedatangan wong kalang di Kotagede terjadi pada abad XVIII yang pada waktu itu telah dibagi dua, yaitu sebagian untuk Kasultanan Yogyakarta dan sebagian lagi untuk Kasunanan Surakarta, kecuali pasar, mesjid, dan Pasareyan Agung. Dorongan kedatangan wong kalang di Kotagede secara garis besar ada dua hal, yaitu: sifat pengembaraan yang turun menurun, dan bakat alamiah mereka dalam bidang perdagangan dan pelayanan jasa umum, serta kewirausahaan dlam berbagai bidang.
Pada abad XIX, wong kalang mempunyai kedudukan yang penting dalam perekonomian di Kotagede secara khusus. Mereka pada waktu itu bertempat tinggal di wilayah Tegalgendhu. Mereka menguasai perdagangan berbagai komoditi serta jasa, seperti transportasi dan pegadaian.
Pada abad XX M, pengertian kalang dikaitkan dengan tukang kayu (perajin kayu) atau petugas kehutanan. Di Keraton Surakarta dikenal abdi dalem kalang (tukang kayu) yang bekerja sama dengan abdi dalem narawreksa. Di Keraton Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dikenal abdi dalem gowong. Wong kalang mendiami beberapa kota dan daerah tertentu, seperti Tegalgendhu (Kotagede), Petanahan dan Ambal di Kebumen, Pekalongan, Semarang, Walikukun, Madiun, Tulungagung, Surabaya, dan Bayuwangi.
Claude Guilot, sejarahwan Prancis, secara khusus melakukan studi terhadap ‘wong kalang’ dan diantaranya adalah yang menetap di Kotagede. Sebuah keluarga golongan Kalang yang menjadi salah satu narasumbernya yaitu keluarga Asijah Prawirosularso, menjadi akrab dengan Guliot ketika penelitian berlangsung sehingga dengan sangat ramah melayani berbagai keperluan penelitiannya, termasuk penginapan.
Keluarga ini menceritakan bagaimana leluhurnya mengembara hingga menetap di Gombong. Pada awal abad XVIII, leluhur yang masih diingat namanya, yaitu Mertawangsa, memiliki perusahaan dagang dan pegadaian, dan akhirnya pindah ke Kotagede pada akhir abad XVIII. Lokasi ini dianggap strategis karena, selain hanya sekitar 6 Km dari pusat pemerintahan Yogyakarta, juga karena Kotagede pada saat itu berada di wilayah dua pemerintahan sekaligus, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
Generasi berikutnya, yaitu Mertasetika, berperan aktif ketika perang Dipanegara. Pada waktu itu, Kotagede selain sebagai pusat perdagangan dan ekonomi juga menjadi pusat pembuatan senjata, karena Kotagede merupakan pusat perajin mranggi dan pandhe wesi (pande besi). Kedudukannya semakin terpandang, sehingga salah satu anaknya yang bernama Brajasemita diangkat oleh Keraton Yogyakarta sebagai demang pada sekitar tahun 1850. Anak perempuan Demang Brajasemita yang lahir tahun 1857 akhirnya masuk Islam dan berganti nama menjadi Fatimah. Fatimah kemudian menikah dengan sepupunya yang tidak masuk Islam, yaitu Mulyasuwarna, pada tahun 1872.
Pasangan yang menikah pada usia 17 dan 15 tahun ini semakin akrab dengan kalangan istana Keraton Yogyakarta karena keduanya memang ulet dan memiliki jiwa wirausaha yang besar. Pasangan ini kaya raya juga memiliki status yang tinggi di kalangan masyarakat Kotagede. Tidak mengherankan jika anaknya, Prawirasuwarna, yang lahir pad tahun 1873 ketika remaja begitu leluasa keluar-masuk istana Yogyakarta, termasuk bermain-main dengan pangeran yang nantinya menjadi Sultan Hamengku Buwana VIII.
Keluarga ini semakin kaya ketika mendapat hak mengelola rumah gadai, meskipun rumah gadai ditutup pada awal abad XX. Hak ini diterima dari Keraton Surakarta yang tetap mempertahankan lembaga pegadaian di wilayahnya, termasuk Kotagede. Mereka terus membeli hak mengelola rumah gadai hingga berjumlah sebelas dan pengelolaannya dititipkan kepada kerabat-kerabatnya. Pelanggan terbesarnya adalah keluarga ningrat sehingga perusahaan mereka benar-benar mirip sebuah bank swasta yang sukses; dan ini juga berkat dukungan anaknya yang bernama Noerijah.
Di samping itu, bisnis lainnya, yaitu perdagangan emas dan berlian juga berkembang sama baiknya sehingga keluarga ini menjadi semakin kaya dan terpandang. Van Mook bahkan menulis bahwa pada saat itu Kotagede menjadi pusat perdagangan yang terbesar di Hindia Belanda.
Pusat permukiman mereka ada di Tegalgendhu dengan gaya bangunan yang khas Eropa dengan dominasi mosaik dan tegel yang mewah. Mereka bahkan memiliki pembantu wanita dari keturunan Tionghoa dan Eropa, sebuah gengsi yang sangat tinggi.
Pada masa pendudukan Jepang, keluarga ini mengungsi dari Tegalgendhu menuju sebuah dusun yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Kotagede. Selain penjarahan, harta berupa emas dan berlian yang dititipkan kepada orang asing untuk diselamatkan di Amerika Serikat, tidak dapat diambil kembali setelah perang usai. Dengan dukungan anaknya Noerijah, Prawirasuwarna berusaha membangun kembali kedudukan dan perannya dalam roda ekonomi, dan selama itu pula mereka mendukung keluarga Sultan Yogyakarta.
Ketika Indonesia Merdeka dan Belanda kembali ke Indonesia, pemerintahan Soekarno untuk sementara pindah ke Yogyakarta. Sultan Yogyakarta bersedia memberikan perlindungan dan dukungan dana kepada pemerintah yang masih miskin ini, dan seperti biasanya, dukungan dana juga melibatkan golongan Kalang. Namun, pasca perang menyebabkan keluarga itu terpisah-pisah sehingga tidak sekuat dulu lagi.
Kerugian akibat perang ditambah dengan pembauran wilayah Yogyakarta dengan Republik Indonesia yang antara lain juga berdampak kepada nasionalisasi rumah-rumah gadai, mendorong keluarga ini mengubah haluan bisnisnya. Bidang usaha yang mereka geluti setelah itu adalah bidang wisata, khususnya perhotelan dan biro perjalanan, serta angkutan termasuk perusahaan bis. Mungkin sebuah kebetulan, jika akhirnya keluarga Kalang ini kembali mengikuti jejak leluhurnya di bidang usaha angkutan.
Wong Kalang di Kotagede yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Kalang Obong (geseng) dan Kalang Kamplong. Kalang Kobong mempunyai kebiasaan membakar boneka sebagai lambang orang yang telah meninggal, pada hari keseribu (nyewu). Golongan Kalang sebenarnya sudah dikenal dalam prasasti Jawa Kuna. Prasasti Harinjing A (804 M), misalnya menyebut tuha kalang (ketua kelompok kalang), selain itu disebut pula dalam prasasti Panggumulan (904 M) dengan istilah Pandhe Kalang (tukang kayu).
Pada abad XVII sebutan wong kalang muncul lagi, yaitu ketika Sultan Agung membuat wong kalang menetap di Jawa Tengah pada tahun 1636. Catatan bangsa Eropa tentang golongan ini antara lain adalah bahwa mereka yang berada di Rembang dan Pati waktu itu bekerja sebagai penebang pohon. Catatan lain lebih memperjelas keberadaan mereka di Jawa tengah, yaitu menebang dan mengangkat kayu; membuat “gorab” dan kapal perang; mereka juga memiliki sejumlah ketua yang salah satunya bergelar Tumenggung.
Gelombang kedatangan wong kalang di Kotagede terjadi pada abad XVIII yang pada waktu itu telah dibagi dua, yaitu sebagian untuk Kasultanan Yogyakarta dan sebagian lagi untuk Kasunanan Surakarta, kecuali pasar, mesjid, dan Pasareyan Agung. Dorongan kedatangan wong kalang di Kotagede secara garis besar ada dua hal, yaitu: sifat pengembaraan yang turun menurun, dan bakat alamiah mereka dalam bidang perdagangan dan pelayanan jasa umum, serta kewirausahaan dlam berbagai bidang.
Pada abad XIX, wong kalang mempunyai kedudukan yang penting dalam perekonomian di Kotagede secara khusus. Mereka pada waktu itu bertempat tinggal di wilayah Tegalgendhu. Mereka menguasai perdagangan berbagai komoditi serta jasa, seperti transportasi dan pegadaian.
Pada abad XX M, pengertian kalang dikaitkan dengan tukang kayu (perajin kayu) atau petugas kehutanan. Di Keraton Surakarta dikenal abdi dalem kalang (tukang kayu) yang bekerja sama dengan abdi dalem narawreksa. Di Keraton Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dikenal abdi dalem gowong. Wong kalang mendiami beberapa kota dan daerah tertentu, seperti Tegalgendhu (Kotagede), Petanahan dan Ambal di Kebumen, Pekalongan, Semarang, Walikukun, Madiun, Tulungagung, Surabaya, dan Bayuwangi.
Claude Guilot, sejarahwan Prancis, secara khusus melakukan studi terhadap ‘wong kalang’ dan diantaranya adalah yang menetap di Kotagede. Sebuah keluarga golongan Kalang yang menjadi salah satu narasumbernya yaitu keluarga Asijah Prawirosularso, menjadi akrab dengan Guliot ketika penelitian berlangsung sehingga dengan sangat ramah melayani berbagai keperluan penelitiannya, termasuk penginapan.
Keluarga ini menceritakan bagaimana leluhurnya mengembara hingga menetap di Gombong. Pada awal abad XVIII, leluhur yang masih diingat namanya, yaitu Mertawangsa, memiliki perusahaan dagang dan pegadaian, dan akhirnya pindah ke Kotagede pada akhir abad XVIII. Lokasi ini dianggap strategis karena, selain hanya sekitar 6 Km dari pusat pemerintahan Yogyakarta, juga karena Kotagede pada saat itu berada di wilayah dua pemerintahan sekaligus, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
Generasi berikutnya, yaitu Mertasetika, berperan aktif ketika perang Dipanegara. Pada waktu itu, Kotagede selain sebagai pusat perdagangan dan ekonomi juga menjadi pusat pembuatan senjata, karena Kotagede merupakan pusat perajin mranggi dan pandhe wesi (pande besi). Kedudukannya semakin terpandang, sehingga salah satu anaknya yang bernama Brajasemita diangkat oleh Keraton Yogyakarta sebagai demang pada sekitar tahun 1850. Anak perempuan Demang Brajasemita yang lahir tahun 1857 akhirnya masuk Islam dan berganti nama menjadi Fatimah. Fatimah kemudian menikah dengan sepupunya yang tidak masuk Islam, yaitu Mulyasuwarna, pada tahun 1872.
Pasangan yang menikah pada usia 17 dan 15 tahun ini semakin akrab dengan kalangan istana Keraton Yogyakarta karena keduanya memang ulet dan memiliki jiwa wirausaha yang besar. Pasangan ini kaya raya juga memiliki status yang tinggi di kalangan masyarakat Kotagede. Tidak mengherankan jika anaknya, Prawirasuwarna, yang lahir pad tahun 1873 ketika remaja begitu leluasa keluar-masuk istana Yogyakarta, termasuk bermain-main dengan pangeran yang nantinya menjadi Sultan Hamengku Buwana VIII.
Keluarga ini semakin kaya ketika mendapat hak mengelola rumah gadai, meskipun rumah gadai ditutup pada awal abad XX. Hak ini diterima dari Keraton Surakarta yang tetap mempertahankan lembaga pegadaian di wilayahnya, termasuk Kotagede. Mereka terus membeli hak mengelola rumah gadai hingga berjumlah sebelas dan pengelolaannya dititipkan kepada kerabat-kerabatnya. Pelanggan terbesarnya adalah keluarga ningrat sehingga perusahaan mereka benar-benar mirip sebuah bank swasta yang sukses; dan ini juga berkat dukungan anaknya yang bernama Noerijah.
Di samping itu, bisnis lainnya, yaitu perdagangan emas dan berlian juga berkembang sama baiknya sehingga keluarga ini menjadi semakin kaya dan terpandang. Van Mook bahkan menulis bahwa pada saat itu Kotagede menjadi pusat perdagangan yang terbesar di Hindia Belanda.
Pusat permukiman mereka ada di Tegalgendhu dengan gaya bangunan yang khas Eropa dengan dominasi mosaik dan tegel yang mewah. Mereka bahkan memiliki pembantu wanita dari keturunan Tionghoa dan Eropa, sebuah gengsi yang sangat tinggi.
Pada masa pendudukan Jepang, keluarga ini mengungsi dari Tegalgendhu menuju sebuah dusun yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Kotagede. Selain penjarahan, harta berupa emas dan berlian yang dititipkan kepada orang asing untuk diselamatkan di Amerika Serikat, tidak dapat diambil kembali setelah perang usai. Dengan dukungan anaknya Noerijah, Prawirasuwarna berusaha membangun kembali kedudukan dan perannya dalam roda ekonomi, dan selama itu pula mereka mendukung keluarga Sultan Yogyakarta.
Ketika Indonesia Merdeka dan Belanda kembali ke Indonesia, pemerintahan Soekarno untuk sementara pindah ke Yogyakarta. Sultan Yogyakarta bersedia memberikan perlindungan dan dukungan dana kepada pemerintah yang masih miskin ini, dan seperti biasanya, dukungan dana juga melibatkan golongan Kalang. Namun, pasca perang menyebabkan keluarga itu terpisah-pisah sehingga tidak sekuat dulu lagi.
Kerugian akibat perang ditambah dengan pembauran wilayah Yogyakarta dengan Republik Indonesia yang antara lain juga berdampak kepada nasionalisasi rumah-rumah gadai, mendorong keluarga ini mengubah haluan bisnisnya. Bidang usaha yang mereka geluti setelah itu adalah bidang wisata, khususnya perhotelan dan biro perjalanan, serta angkutan termasuk perusahaan bis. Mungkin sebuah kebetulan, jika akhirnya keluarga Kalang ini kembali mengikuti jejak leluhurnya di bidang usaha angkutan.
Witana, Cungkup
Salah satu dari tiga cungkup makam yang terdapat dalam Pasareyan Ageng, Kotagede. Bangunan rumah dalam makam yang dibuat oleh Kraton Yogyakarta, dengan gaya Jawa, bangunan kayu yang sederhana tetapi cukup indah. Ada sekitar 15 makam, diantaranya yang terpenting adalah makam walinegara Mataram pada zaman kekuasaan Pajang, juga pendiri Kotagede, Kyai Ageng Mataram (wafat 1575) dan makam istrinya Nyai Ageng Mataram, makam anaknya Panembahan Senopati (wafat 1601), makam pembantu dan patihnya Kyai Ageng Jurumartani dan makam Tumenggung Mayang yang sewaktu ditangkap oleh Sultan Pajang menjadi salah satu sebab pemberontakan Sutawijaya terhadap Pajang.
Bangunan ini dipercaya memiliki kekuatan mistik untuk memberikan ramalan akan datangnya kemalangan di dalam kerajaan Mataram dengan keluarganya asap dan nyala api yang kuning kemerah-merahan dari atasnya. Kejadian paling akhir atas misteri, terjadi pada malam tanggal 1 Oktober 1965, malam sebelum meletusnya pemberontakan G 30 S PKI yang gagal. Beberapa juru kunci yang bertugas malam itu melihat asap dan nyala api yang kemerah-merahan yang berasal dari atas cungkup Senapati dan pada hari berikutnya mendengar terjadinya salah satu peristiwa paling tragis di dalam sejarah Indonesia Merdeka.
Bangunan ini dipercaya memiliki kekuatan mistik untuk memberikan ramalan akan datangnya kemalangan di dalam kerajaan Mataram dengan keluarganya asap dan nyala api yang kuning kemerah-merahan dari atasnya. Kejadian paling akhir atas misteri, terjadi pada malam tanggal 1 Oktober 1965, malam sebelum meletusnya pemberontakan G 30 S PKI yang gagal. Beberapa juru kunci yang bertugas malam itu melihat asap dan nyala api yang kemerah-merahan yang berasal dari atas cungkup Senapati dan pada hari berikutnya mendengar terjadinya salah satu peristiwa paling tragis di dalam sejarah Indonesia Merdeka.
Wong Asu, Legendha
Salah satu legenda tentang asal usul Orang Kalang. Pada zaman dahulu ada seorang raja yang sedang berburu di hutan. Di dalam hutan beliau kencing. Beliau tidak tahu bahwa air kencingnya tertampung di dalam tempurung kelapa yang tinggal setengah. Tidak lama kemudian ada seekor babi hutan lewat dan meminum air yang ada di dalam tempurung. Keajaiban terjadi, babi hutan itu hamil dan melahirkan seorang anak berujud manusia. Anak tersebut sangat cantik.
Dua puluh tahun kemudian, bayi babi hutan telah dewasa. Ia sangat senang bertenun. Oleh karena itu setiap hari ia menenun, di panggung. Tiba-tiba alat tenunnya jatuh ke tanah. Karena tempatnya tinggi dan untuk mengambilnya sukar maka ia menyatakan ikrar yang berbunyi barang siapa yang dapat mengambilkan alat tenun ke hadapannya, kalau perempuan akan dijadikan saudara kandung kalau laki-laki akan dijadikan suami dan kalau binatang akan dijadikan piaraannya dan akan dijadikan keluarganya. Pada waktu itu lewatlah seekor anjing jantan yang mendengar ikrar putri tersebut. Kemudian si anjing mengambilkan alat teropong/tenun dan diletakkan di dekat putri. Sungguh, sejak saat itu si anjing menjadi piaraannya dan juga menjadi keluarganya.
Akhirnya si anjing menjadi suaminya dan menghasilkan seorang anak laki-laki, yang bernama Jaka Sona. Ia senang berburu. Pada suatu hari ia berburu di hutan ditemani anjingnya (ayahnya). Di hutan ia bertemu babi hutan (neneknya). Kemudian si anjing disuruh mengejar tetapi anjing tidak mau. Karena marahnya anjing dibunuh dan babi hutan juga dibunuh. Sesampainya di rumah Jaka Sona menceritakan bahwa ia telah membunuh anjing dan babi hutan. Ketika ibunya mendengar cerita anaknya lalu ia mengatakan bahwa sesungguhnya anjing itu ayahnya dan babi hutan itu neneknya.
Mendengar penuturan ibunya Jaka Sona merasa sangat menyesal. Karena itu ia meninggalkan rumahnya tanpa pamit pada ibunya. Ia pergi mengembara dari satu tempat ke tempat lain sampai bertahun-tahun. Akhirnya Jaka Sona kembali ke tempat asalnya. Di sini ia bertemu wanita cantik dan jatuh cinta. Bahagialah rasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya mereka menikah. Pada suatu hari si istri melihat belang di kepala suaminya dan ia tidak pangling bahwa suaminya itu tidak lain anaknya sendiri. Setelah ia mengetahui lalu meninggalkan rumah tanpa pamit. Selanjutnya Jaka Sona kawin lagi dan mempunyai seorang putra yang diberi nama Kalangjoyo. Kalangjoyo inilah yang dianggap nenek-moyang Orang Kalang. Dilihat dari Kalangjoyo.
Dua puluh tahun kemudian, bayi babi hutan telah dewasa. Ia sangat senang bertenun. Oleh karena itu setiap hari ia menenun, di panggung. Tiba-tiba alat tenunnya jatuh ke tanah. Karena tempatnya tinggi dan untuk mengambilnya sukar maka ia menyatakan ikrar yang berbunyi barang siapa yang dapat mengambilkan alat tenun ke hadapannya, kalau perempuan akan dijadikan saudara kandung kalau laki-laki akan dijadikan suami dan kalau binatang akan dijadikan piaraannya dan akan dijadikan keluarganya. Pada waktu itu lewatlah seekor anjing jantan yang mendengar ikrar putri tersebut. Kemudian si anjing mengambilkan alat teropong/tenun dan diletakkan di dekat putri. Sungguh, sejak saat itu si anjing menjadi piaraannya dan juga menjadi keluarganya.
Akhirnya si anjing menjadi suaminya dan menghasilkan seorang anak laki-laki, yang bernama Jaka Sona. Ia senang berburu. Pada suatu hari ia berburu di hutan ditemani anjingnya (ayahnya). Di hutan ia bertemu babi hutan (neneknya). Kemudian si anjing disuruh mengejar tetapi anjing tidak mau. Karena marahnya anjing dibunuh dan babi hutan juga dibunuh. Sesampainya di rumah Jaka Sona menceritakan bahwa ia telah membunuh anjing dan babi hutan. Ketika ibunya mendengar cerita anaknya lalu ia mengatakan bahwa sesungguhnya anjing itu ayahnya dan babi hutan itu neneknya.
Mendengar penuturan ibunya Jaka Sona merasa sangat menyesal. Karena itu ia meninggalkan rumahnya tanpa pamit pada ibunya. Ia pergi mengembara dari satu tempat ke tempat lain sampai bertahun-tahun. Akhirnya Jaka Sona kembali ke tempat asalnya. Di sini ia bertemu wanita cantik dan jatuh cinta. Bahagialah rasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya mereka menikah. Pada suatu hari si istri melihat belang di kepala suaminya dan ia tidak pangling bahwa suaminya itu tidak lain anaknya sendiri. Setelah ia mengetahui lalu meninggalkan rumah tanpa pamit. Selanjutnya Jaka Sona kawin lagi dan mempunyai seorang putra yang diberi nama Kalangjoyo. Kalangjoyo inilah yang dianggap nenek-moyang Orang Kalang. Dilihat dari Kalangjoyo.
Wisiking Trus Pandhita Nata, Sengkalan
Sengkalan dibuat untuk menandai perbaikan sendhang atau kolam Seliran. Wisiking berarti bisikan atau ilham, melambangkan angka 6, trus berarti terus atau langsung. Melambangkan angka 9, pandhita (pendeta) melambangkan angka 7, dan nata (raja) melambangkan angka 1.
Jika diurutkan secara terbaik, maka akan menjadi angka 1796 tahun Jawa atau Tahun 1867 M, sebagai tahun perbaikan Sendhang Seliran tersebut. Makna kalimat ini adalah ilham atau bisikan yang dating langsung kepada raja pendeta untuk memugar atau memperbaiki Kolam Seliran. Dengan kata lain, Sri Sultan Hamengkubuwana VI telah mendapat ilham untuk memugar sendhang.
Jika diurutkan secara terbaik, maka akan menjadi angka 1796 tahun Jawa atau Tahun 1867 M, sebagai tahun perbaikan Sendhang Seliran tersebut. Makna kalimat ini adalah ilham atau bisikan yang dating langsung kepada raja pendeta untuk memugar atau memperbaiki Kolam Seliran. Dengan kata lain, Sri Sultan Hamengkubuwana VI telah mendapat ilham untuk memugar sendhang.
Wisamarta, Abdi Dalem
Salah satu Abdi Dalem Prajurit Sabinan pada zaman Keraton Mataram yang bertugas menjaga pintu gerbang sebelah utara dan selatan pada sisi luarnya. Wisamarta artinya meredalam bisa (wisa), maupun racun. Abdi Dalem Wisamarta ini berjumlah 22 orang.
Wirog
Kepanjangannya adalah Warga Islam Rukun Olehe Sesrawungan. Merupakan gerakan social di dalam komunitas Kampung Selokraman dan Jayapranan pada tahun 1986-an. Melakukan banyak aktivitas di bidang olahraga dan musik, dengan motor penggerak Solahudin.
Wirokerten, Kampung
Nama toponim kampung tradisional di Kotagede, yang terletak di Kampung ini terletak sekitar 400 meter sebelah timur dari Pasar Kotagede. Sebelah selatan terletak kampung Mutihan, dan sebelah Timur terletak Kampung Selakraman. Secara administratif sekarang menjadi nama desa, yang termasuk dalam Kecamatan Banguntapan. Sebutan Wirokerten, diduga berasal dari nama Pangeran Wirokerto yang merupakan kerabat Panembahan Senopati.
Wingko, Makanan
Makanan khas yang berasal dari Kotagede, berbentuk bulat, bewarna putih kecoklatan, sebagai warna asli dari hasil pengolahan melalui oven. Pada beberapa penyajian juga dibuat dalam bentuk potongan-potongan kecil segi tiga maupun segi empat Wingko rasanya manis dan gurih.
Makanan tradisional ini dibuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa, dibubuhi vanili sebagai aroma, dan pemanis gula pasir. Adonan ini selanjutnya dicetak dan dioven.
Makanan tradisional ini dibuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa, dibubuhi vanili sebagai aroma, dan pemanis gula pasir. Adonan ini selanjutnya dicetak dan dioven.
Winong, Kampung
Nama toponim kampung tradisional di Kotagede, yang terletak di sebelah Barat Laut Pasar Gede tepatnya sebelah Timur S. Gajahwong, termasuk dalam wilayah administratif Kelurahan Prenggan. Sebutan Winong, diduga berasal dari pohon Binong (Tetrameles nudiflora), yang merupakan sejenis tanaman kayu-kayuan, yang tingginya bisa mencapai 50 m. Diduga di masa lalu terdapat pohon winong, yang cukup besar, sehingga menjadi penanda bagi tempat ini. Di lokasi ini, sejak akhir tahun 1970-an, kemudian dibangun Perumahan bagi lingkungan Pegawai Negeri Sipil DIY.
Winayang Rasa Wisayaning Ratu, Sengkalan
Sengkalan yang bermakna angka tahun 1566 Jawa atau 1664 M ini dibuat untuk menandai diresmikannya bangsa Dhudha oleh Sultan Agung. Makna kalimatnya adalah bahwa pembangunan bangsa Dhudha dilakukan karena keinginan raja (inisiatif Sultan Agung). Sementara itu makna angka dalam kalimat ini adalah: winayang (digerakkan) bermakna angka 6, rasa (rasa) melambangkan angka 6, wisayaning (kehendak) melambangkan angka 5, dan ratu (raja) bermakna angka 1 atau jika dibalik dan diurutkan menjadi 1566.
Peresmian bangsal Dhudha ditandai dengan dua sengkalan, yang satunya adalah hangga-hangga tinulup nangisi putra.
Peresmian bangsal Dhudha ditandai dengan dua sengkalan, yang satunya adalah hangga-hangga tinulup nangisi putra.
Wewe
Lelembut berkelamin wanita yang suka menculik ini, memiliki buah dada besar menjulur ke bawah hingga ke perut, berambut terurai panjang tidak teratur, dan mengenakan kain panjang sebatas perut. Seperti jin, lelembut ini dapat memba mengelabui orang yang diculiknya. Biasanya, orang yang diculik wewe merasa diajak oleh salah seorang saudaranya atau kenalannya ke pasar atau ke tempat-tempat tertentu yang sudah dikenal. Orang yang diculik wewe akan mengalami kelainan jiwa, sakit atau meninggal.
Selain mencilik orang dewasa, makhluk ini juga menulik anak-anak. Mereka yang diculik dan dijepit dengan ketiaknya, dibawa keluar desa, dan ditempatkan diatas dahan pohon yang tinggi. Salah satu kegemaran makhluk penculik ini ialah menjemur celana dalamnya –terbuat dari robekan kain panjang- diatas dahan pohon beringin di pagi hari. Jika seseorang dapat mencuri celana dalam wewe yang sedang dijemur ia akan menjadi sakti dan dapat berkomunikasi dengan makhluk halus.
Selain mencilik orang dewasa, makhluk ini juga menulik anak-anak. Mereka yang diculik dan dijepit dengan ketiaknya, dibawa keluar desa, dan ditempatkan diatas dahan pohon yang tinggi. Salah satu kegemaran makhluk penculik ini ialah menjemur celana dalamnya –terbuat dari robekan kain panjang- diatas dahan pohon beringin di pagi hari. Jika seseorang dapat mencuri celana dalam wewe yang sedang dijemur ia akan menjadi sakti dan dapat berkomunikasi dengan makhluk halus.
Wela
Makanan khas Kotagede berbentuk segitiga dengan rasa manis, di dalamnya diisi dengan tempe. Asal-usul nama ini, pertama kali terjadi, pada saat para abdi dalem disuguhi makanan ini oleh penduduk Kotagede, setelah mencicipi, ia heran dan merasa unik bentuk dan rasanya. Maka, ia berkata: “..we lha,…kok kaya ngene..” maksudnya ..”wah rasa kue ini kok seperti ini, enak dan gurih..”. Sejak saat itu makanan tersebut dikenal dengan nama wela. Makanan ini bisanya disajikan sebagai pelengkap Soto Kotagede.
Wetan Omah
Adalah penyebutan local Kotagede terhadap gandhok kiwe dari rumah Jawa, yakni bangunan turutan yang berada di sisi timur (Jw: wetan) dari dalem atau rumah induk (dalam bahasa Jawa disebut: omah). Wetan omah tidak selalu ada dalam konfigurasi rumah tradisional di Kotagede.
Wetan omah biasanya adalah zona laki-laki, dan berfungsi sebagai ruang duduk untuk menerima tamu yang dianggap dekat/ akrab. Sehubungan dengan itu, wetan omah memiliki pintu tersendiri, yang dalam gubahan baku rumah Jawa adalah seketheng.
Wetan omah biasanya adalah zona laki-laki, dan berfungsi sebagai ruang duduk untuk menerima tamu yang dianggap dekat/ akrab. Sehubungan dengan itu, wetan omah memiliki pintu tersendiri, yang dalam gubahan baku rumah Jawa adalah seketheng.
Wegeng, Abdi Dalem
Sebutan bagi pejabat pemerintahan Keraton Mataram dalam Sruktur Punggawa Raja yang mempunyai keahlian dalam pembuatan batu nisan. Kedudukan Abdi Dalem Wegeng ini menjadi semakin penting sejalan dengan aksistensi Komplek Pasareyan Kotagede.
Wedhon
Makhluk halus yang berasal dari roh manusia mati yang ikatan tali kafannya tidak dilepas. Ia berujud mayat terbungkus kain kafan –disebut juga sebagai pocngan- dan bergerak meloncat-loncat. Tempat tinggalnya ada di pekuburan.
Langganan:
Postingan (Atom)