Tampilkan postingan dengan label B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2009

Buto Ijo

Pesugihan Buto Ijo ini digambarkan sebagai sosok rakssa berwarna hijau yang memakai cawat, matanya terbelalak merah dan tampak taring giginya yang mengerikan sedang menggendong seorang anak kecil yang meronta-ronta menangis ketakutan. Digambarkan pula bagaimana sang ibu dan bapaknya tenang-tenang saja melihat hal tersebut dengan duduk bersimpuh di depan tungku api dengan sesaji dan kipas bambu. Anak kecil itulah yang dijadikan tumbal bagi Butoijo.

Pesugihan ini biasanya menuntut satu kamar khusus bagi si Buto Ijo, semua orang dilarang masuk kamar ini, kecuali mereka yang memeliharanya. Konon di kamar tersebut, Buto Ijo bersemayam dan di dalam kamar tersebut tidak ada perabotan atau barang-barang kecuali sebuah batu wungkal yang dirantai. Batu wungkal adalah batu padas untuk mengasah pisau atau parang. Sebagai tumbal bagi Buto Ijo, si pemiliharanya yang memperoleh kekayaan, biasanya harus bersedia mengorbankan anak atau kerabat terdekatnya

Butulan

Merupakan pintu samping atau belakang dari rumah Jawa, atau semacam seketheng dalam rumah joglo lengkap. Melalui pintu ini dilangsungkan berbagai aktivitas penunjang rumah tangga yang bersifat non-formal, namun sering justru merupakan kegiatan operasional rumahtangga sehari-hari yang tinggi intensitasnya.
Di Kotagede, butulan mempunyai dua arti. Pertama adalah butulan omah. Butulan rumah memiliki posisi yang unik, dan secara khusus disebut dengan Pintu Luberan. Kedua, istilah ini digunakan untuk menyebut butulan mesjid, yaitu pintu gerbang utara halaman Masjid Gede Kotagede yang berhubungan dengan Kampung Kudusan dan Sayangan. Butulan ini menjadi servive entrance tempat lewat para pengurus masjid dan kaum ulama kerajaan yang tinggal di Kampung Kudusan.

Bupati Pasisiran

Sebutan bagi para pejabat tinggi pada zaman Keraton Mataram yang mempunyai kewenangan mengepalai masing-masing daerah Pasisiran yang menjadi wilayah kekuasaannya. Pasisiran atau pesisir merupakan sebutan bagi suatu wilayah yang berada di sepanjang pantai.

Buta

Makhluk bertubuh tinggi menakutkan ini tinggal di dalam hutan. Makanan utamanya adalah daging mentah.

Bupati Nayaka

Sebutan untuk pejabat tinggi atau kerabat raja pada zaman Keraton Mataram yang diberi kewenangan untuk mengepalai masing-masing daerah kekuasaan dengan diberi kompensasi atas jabatan yang dipegangnya berupa tanah lungguh dari raja, dengan status tanah hanggaduh. Yang berada di dalam wilayah negaragung. Sebagian dari hasil yang diperoleh dari tanah lungguh ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dari luas tanah lungguh yang menjadi hak kelolanya, para Bupati dapat hidup dengan mewah.
Sejak pemerintahan Sultan Agung dengan politik sentralisasinya, semua bupati nayaka ini diwajibkan bertempat tinggal di dalam kuthagara atau wilayah ibukota Keraton Mataram agar mudah dikontrol untuk mencegah upaya melepaskan diri.

Bupati Mancanegara

Sebutan bagi para pengusaha wilayah-wilayah mancanegara yang berada di bawah kendali keraton Mataram. Daerah-daerah Mancanegara, baik Mancanegara Kulon, maupun Mancanegara Wetan, terdiri atas sejumlah wilayah kekuasaan yang masing-masing dikepalai oleh seorang Bupati. Dalam Serat Pustaka Raja Puwara, pejabat tinggi ini juga diistilahkan sebagai Wedana, yang biasanya berperangkat Tumenggung atau Raden Arya.
Jumlah Bupati Mancanegara yang mengepalai tiap-tiap daerah tidak sama, tergantung pada luas daerah kekuasaannya. Sebagai contoh, untuk daerah Kediri (dengan tanah cacah sejumlah 4000 karya) hanya dikepalai oleh seorang Bupati, yaitu Tumenggung Katawengan. Sedang daerah Madiun (dengan tanah cacah sejumlah 16.000 karya) dikepalai oleh dua orang Bupati, yaitu Raden Tumenggung Martalaya dan Raden Arya Saputra. Untuk daerah Mancanegara yang tidak cukup luas, biasanya dikepalai oleh seorang Mantri atau seorang Kliwon. Para Bupati Mancanegara tersebut dikepalai atau dibawah pengawasan Wedana Bupati Mancanegara. Pada tahun 1677 Mas Tumapel (saudara sepupu Panembahan Mas Giri) yang pada awalnya menjabat sebagai Bupati Gresik, berikutnya diangkat sebagai Wedana-Bupati Mancanegara berkedudukan di Jipang (selanjutnya terkenal sebagai Adipati Jipang), yang bertugas untuk mengkoordinir Bupati-bupati di Mancanegara.

Bumija

Salah satu bagian dari delapan wilayah Negara Agung Kerajaan Mataram, yang terletak di Kedu sebelah Timur Sungai Progo. Pada masa tersebut, di daerah tersebut terdapat tanah lungguh yang menjadi hak bangsawan Kraton dan pejabat tinggi di Kutagara, yang berjumlah 6.000 cacah

Bupati

Sebutan untuk para pejabat tinggi pada zaman Mataram yang memiliki wilayah kekuasaan tertentu, baik di dalam wilayah tanah raja (nagaragung) maupun diluarnya (mancanegara). Pada zaman Keraton Mataram, para Bupati dapat membentuk lingkungan kehidupannya (kabupaten) seperti miniatur keraton, dengan mecontoh tata tingkat struktur pemerintahannya seperti keraton. Pada saat berpergian seorang Bupati sering diiringi sejumlah besar abdi-abdi pengiring. Kondisi ini berkembang dalam bentuk miniatur-mianiatur yang lebih kecil, sebagaimana terjadi pada lingkungan Kademangan, Kepanjen, Kabekelan, dan sebagainya. Seorang Demang atau Panji, apabila bepergian juga sering diiringi pengiring-pengiring sesuai dengan kedudukannya.

Bumi

Salah satu bagian dari delapan wilayah Negara Agung Kerajaan Mataram, yang terletak di Kedu sebelah Barat Sungai Progo. Pada masa tersebut, di daerah tersebut terdapat tanah lungguh yang menjadi hak bangsawan Kraton dan pejabat tinggi di Kutagara, yang berjumlah 6.000 cacah.

Bumen, kampung

Nama toponim kampung tradisional di Kotagede, yang terletak di sebelah Timur Laut Pasar Gedhe termasuk dalam wilayah administratif Kelurahan Purbayan. Sebutan Bumen, diduga berasal dari nama tempat kediaman Pangeran Mangkubumi, saudara Panembahan Senapati.

Buldanul Khuri

Tokoh perbukuan, penerbitan dan disain grafis Indonesia. Lahir di Kotagede, 1965 dan menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA, di lingkungan Muhammadiyah Kotagede. Lalu melanjutkan studi di Jurusan Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI),yang kemudian menjadi ISI Yogyakarta. Minatnya pada buku dipengaruhi oleh mentornya, Darwis Khudori yang menumbuhkan minatnya pada membaca, dan keluarganya yang memiliki percetakan kecil-kecilan yang dikelola kakak-kakaknya di kampung Selokraman. Setelah menyelesaikan studi, mendirikanbiro disain Aula Graphics Disain, sejalan dengan itu tahun 1992 mendirikan PT Bentang Intervisi Utama bersama ketiga temannya, yang bergerak di bidang dsain grafis, penerbitan,dan percetakan. Tahun 1994, Buldan memisahkan diri dan mengubarkan Yayasan Bentang Budaya, dengan mengkhususkan diri pada penerbitan buku.

Bentang Budaya akhirnya berkembang sebagai suat lembaga penerbitan yang memilih tema-temadi seputar seni, sastra, budaya dan filsafat. Dengan salah satu trend setternya, peneritan serial karya Kahlil Gibran yang cukup kuat baik secara tema isi, disain cover dan hasil pemasarannya. Salah satu sumbangan terbesar dari Buldanul dan Bentang adalah desain cover, dimana ia berhasil membuka cakrawala yang menyegarkan dengan menempatkan desain artistic sebagai bagan penting yang membuat buku menarik minat pembaca dan menciptakan citra khusus terhadap penerbit.

Bulus Jimbung, Pesugihan

Jenis pesugihan yang dilakukan melalui perantaraan seekor bulus atau kura-kura. Tempat untuk mencari pesugihan ini ada di Jimbun, sekitar Rowo Jombor, Klaten. Di sana terdapat sebuah sendang tempat bulus jimbun berada dan ada juru kuncinya. Orang yang bermaksud mengambil pesugihan ini wajib bertemu dengan sang juru kunci. Setelah juru kunci menerangkan syarat dan kewajiban bila mengambil pesugihan ini. Si pemohon aka disuruh pergi ke sendang tempat bulus jimbun berada.

Konon, kalau sampai sang Bulus menjilati kulis si pemohon akan menimbulkan belang kecil.Belang pada kulitnya ini akan terus melebar seiring dengan kekayaan yang didapatkannya lewat pesugihan ini. Jika semua permukaan kulitnya sudah memutih maka dia akan mati dan menjadi pengikut Bulus Jimbung.

Buk Dhekem

Sebuah nama tempat yang terletak di sekitar Kampung Jagalan, tepatnya di ujung gang Celenan sebelum sampai ke Kali Gajahwong. Tempat ini mendapatkan nama demikian karena dahulu pada jalan ini terdapat sebuah bangunan berupa buk atau jembatan/gorong-gorong kecil untuk menyeberangi parit yang melintas.
Pada saat diadakan perbaikan dan penghalusan jalan, buk tersebut dirubuhkan dan diratakan dengan tanah, sehingga terkesan dalam posisi tergolek di bawah. Situasi tersebut alam bahasa Jawa disebut ndekem. Mulai saat itu tempat tersebut lebih terkenal oleh masyarakat sekitarnya dengan nama sebutan Buk Ndekem.
Pada saat ini buk ndekem tinggal sebagai nama tempat. Sedangkan perwujudan fisiknya telah hilang karena tertutup oleh peningkatan permukaan jalan pada penanganan perbaikan jalan berikutnya.

Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin
Judul buku yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura, berupa penelitian tentang Kotagede. Buku ini juga diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dengan judul The Crescent Arises over the Banyan Tree. Buku yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press-Yogyakarta tahun 1983 sebanyak 263 halaman, ditulis dalam enam bab, umumnya mengungkapkan tentang muncul dan berkembangnya Muhammadiyah di Kotagede, dilengkapi pula dengan peta pulau Jawa, Yogyakarta dan Kotagede. Selain itu, diagram yang menggambarkan hubungan kekeluargaan dan perkawinan antara pendiri Muhammadiyah di Kotagede dicantumkan pula dalam buku ini. Lampiran berupa Tanah Bangunan Kotagede (1922), pekerjaan, pendapatan, dan komposisi pekerjaan (1972) disajikan pada bagian akhir buku ini.

Mitsuo Nakamura menjelaskan pula bahwa Kotagede memiliki berbagai keuntungan untuk penelitian perkembangan Muhammadiyah setempat. Secara etnis Kotagede merupakan kota Jawa yang murni, terletak di jantung peradaban Jawa. Kotagede muncul dalam sejarah pertama kali pada pertengahan kedua abad ke 16 sebagai lokasi awal Keraton Mataram yang belakangan, salah satu kerajaan Islam paling awal di pedalaman Jawa Tengah bagian selatan. Keraton Mataram saat itu juga mewujudkan sinkretisasi halus unsur-unsur asli, Hindu-Budha, dan agama Islam dalam kehidupan Keratonnya.

Kedudukan Keraton Mataram berpindah keluar dari Kotagede pada awal abad ke-17. kerajaan itu sendiri kemudian dipecah-pecah dan dipotong menjadi empat kerajaan (Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman) karena intrik internal berkepanjangan berkepanjangan dan campur tangan Belanda selama dua abad berikutnya. Tetapi Kotagede bertahan dari semua kekacauan ini. Tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat kota Jawa yang khususnya sampai saat ini, sebagian besar karena segi agama dan ekonominya.
Selanjutnya Nakamura menambahkan, perkembangan yang menuju pada berdirinya Muhammadiyah di Kotagede terjadi pada saat itu berkembang pesat sampai sekarang. Prestasi Muhammadiyah yang paling menonjol dapat dilihat pada bidang pendidikan, umum, dan kesejahteraan sosial (1972). Muhammadiyah telah memprakarsai banyak perubahan di dalam kepercayaan dan praktik keagamaan di kalangan orang Kotagede.
Di samping prestasi local, Muhammadiyah Kotagede memberikan sejumlah sumbangan bagi kemajuan kepentingan Islam dalam tingkat regional dan bahkan nasional. Di banyak daerah kepulauan Indonesia sekolah-sekolah Muhammadiyah atau sekolah-sekolah Islam lainnya memperoleh sejumlah guru yang berasal dari kalangan Muhammadiyah Kotagede.

Muhammadiyah cabang Kotagede adalah salah satu yang paling aktif dan berpengaruh di dalam organisasi yang pusatnya terletak di Yogyakarta, yang memberikan bantuan langsung pada saat yang diperlukan.
Mitsuko Nakamura menerangkan tentang judul bukunya, yang berhubungan dengan konsep abangan dan santri. Proses Islamisasi di Kotagede sekarang ini hendaknya dipandang melulu sebagai masalah perubahan di dalam orientasi ideologis golongan tertentu masyarakat setempat, yakni dari tradisionalisme ke modernisme di dalam golongan santri, tetapi lebih berupa masalah yang ada hubungannya dengan pandangan agama seluruh penduduk setempat: makin bertambah besar orang-orang di dalam kategori abangan telah berpindah dan sedang berpindah ke arah kategori santri, menjadi semakin benar di dalam berpikir dan beramal sebagai orang Islam. Karena itu, judul asli buku ini, “The Crescent Arises over the Banyan Tree” artinya unsur-unsur santri yang digambarkan dengan bulan sabit semakin munculdari unsur-unsur abangan yang digambarkan dengan pohon beringin, sebuah symbol mistik. Judul ini dimaksudkan hanya sebagai ringkasan jelas proses sejarah setempat tanpa mempunyai implikasi politik yang mungkin timbul dikalangan orang-orang tertentu.

Brosur Lebaran, Buletin

Sebuah bulletin sebagai bagian dari sarana da’wah Muhammadiyah Kotagede. Bulletin ini secara rutin terbit setiap Lebaran, dan pada Tahun 1426 H/2005 M. telah memasuki penerbitan yang ke 44 (sekitar 44 tahun). Brosur Lebaran merupakan bulletin yang telah mengakar kuat dalam waktu yang lama. Brosur Lebaran diprakarsai oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede dengan alamat redaksi di Jl. Mondorakan No. 47 Kotagede Yogyakarta.

Bubak Kawah, Upacara

Jika mempelai wanita kebetulan mbarep (anak sulung), biasanya dilakukan upacara bubak kawah di depan gapura. Sebaliknya kalau mempelai wanita kebetulan ragil (anak bungsu), biasanya dilakukan upacara numplak punjen. Bubak Kawah berasal dari kata bukak membuka dan kawah air dari dalam kandungan. Jadi bubak kawah merupakan detik pertama kali seseorang mempunyai hajat mantu. Bubak kawah juga merupakan wejangan seksual secara perlambang agar mempelai laki-laki tidak merasa kesulitan dalam menjalankan tugas luhur.

Perlengkapan upacara bubak kawah berupa dua buah kendhaga (klenthing) – yakni kendhaga kencana dan kendhaga mulya, kelapa muda, dan mori putih. Dua kendhaga diisi kelapa muda yang telah disisir. Sebelum disisir, kelapa muda dibelah menjadi dua, yang merupakan perlambang hubungan seks pertama, kendhaga ditutup dengan kain mori putih (lambang selaput dara). Proses pembukaan kain mori harus dilakukan dengan hati-hati dan diiringi pembacaan doa (mantra). Ketika kendhaga dalam keadaan terbuka akan tampak dua cahaya (merah dan putih) memancar. Cahaya merah dan putih yang muncul dari air degan (gegantilaning ati) tersebut merupakan perlambang cahaya kama laki-laki, dinamakan cupu adi mandhalika, dan kama wanita, disebut cupu manik astagina.

Upacara bubak kawah juga sering ditandai dengan ular-ular (uraian petuah) yang memuat ajaran seksual kelas tinggi, misalnya uraian tentang makna sesaji tumpeng kidang soka maharetna yang berupa nasi putih dengan puncak ditancapi bendara merah putih. Tumpeng kidang soka maharetna mengandung ajaran Sastra Cetha Piningit bagi pengantin. Kidang Soka adalah gambaran kedua mempelai yang sedang karonsih memadu cinta dan maha retna dengan cahaya Tuhan. Dengan demikian, agar dalam bersenggama mendapat ridla Tuhan, kedua mempelai harus memperhatikan tujuh aturan, yakni (1) pandai mencari waktu yang tepat; (2) tepat dalam memilih tempat; (3) teguh dalam sembah, artinya selalu ingat kepada Tuhan; (4) waspada ing sliring, artinya tanggap terhadap kondisi psikologis pasangan, jangan sampai ada yang merasa terpaksa; (5) waspada ing pratiwi; selalu kembali kepada Tuhan (6) waspada ing luluh, mengendalikan hawa nafsu; (7) waspada ing tuwuh, berusaha mendapatkan keturunan.

Brokohan

Upacara selamatan dilaksanakan bersamaan dengan bayi lahir. Dimulai dengan penanganan ari-ari oleh dukun bayi. Di daerah pedesaan, sajian brokohan berupa sego asahan, yang terdiri dari nasi yang ditempatkan dalam tampah, iwak kebo siji (terdiri dari beberapa bagian tubuh seekor kerbau yang hanya diambil sedikit misalnya daging sepotong), pecel ayam, jangan menir. Untuk dibagikan kepada para tetangga dengan maksud memberitahukan bahwa orang yang bersangkutan melahirkan bayi dengan selamat dan permohonan keselamatan dan agar bayi menjadi anak yang baik.

Brambangan

Bentuk kesenian tradisional rakyat berbentuk teater dengan tema Panji yang berasal dari Babad Segaluh, yang sudah termasuk langka dipargelarkan. Penari dalam kesenian ini berjumlah 20 orang, mengenakan kostum wayang orang. Tokoh utamanya adalah Dewi Brambangan yang mengenakan kostum warna merah dan Raden panji Sekar. Alat musik yang menjadi pengiringadalah Gamelan Jawa laras slendro, dimana para penabuhnya menggunakan pakaian beskapan Jaw. Ban biasanya dipentaskan di pendapa dengan waktu pentas adalah malam hari, antara jam 20.00-22.30.

Tema cerita utamanya adalah tentang Raja Banjaransari di Galuh,dengan fragmen cerita antara lain tentang pertikaian antara Jaka Sesuruh dan Siyungwanara. Selain itu terdapat fragmen cerita lain tentang Inu Kertapati (PrabuSuryawisesa) dan permaisurinya Retna Galuh (Dewi Galuh Candrakirana).

Brojosemito

Generasi ketiga dari keluarga Kalang yang tinggal di Kotagede, yang merupakan penerus dari Mertosetiko. Ia adalah orang pertama diangkat sebagai demang oleh Kraton Yogyakarta, sebuah gelar yang terus disandangnya hingga dihapus pada akhir abad ke-20.

Brajanata, Abdi Dalem

Brajanata artinya perasaan yang tajam. Salah satu Abdi Dalem Prajurit Sabinan yang bertugas menjaga pintu gerbang utara dan selatan dari Keraton Mataram. Abdi Dalem Brajanata ini berjumlah 22 orang.

Bong Supit Pak Darmo

Adalah sebuah legenda Bong Supit dari Kotagede yang telah buka Sejak Zaman Belanda, yang terletak di Jl. Pasarean 4 Kotagede. Salah satu ruangan di rumah itu yang selalu terlihat bersih itu berada di bagian selatan dan menghadap utara itu menjadi saksi bisu terjadinya pemotongan ribuan, bahkan puluhan ribu kulit manusia yang rata-rata berusia SD hingga SMP. Rumah itu adalah tempat kediaman Pak Darmo, bong supit atau tukang khitan yang namanya populer sejak masa penjajahan Belanda.

Namun, namanya kini tinggal kenangan. Sebab, ia telah meninggal dunia tahun 1997 karena faktor usia Dia sendiri kali terakhir mengkhitankan bocah pada tahun 1995. Kini, kepiawaiannya sebagai juru sunat itu diteruskan anak-anaknya. Pak Darmo sendiri lahir tahun 1905. Dia dikaruniai 15 anak, sembilan laki-laki, enam perempuan.

Pak Darmo menjadi legenda dunianya bong supit, karena pekerjaan itu telah dilakoni selama 76 tahun lebih. Awal Pak Darmo menjadi bong supit bermula ketika sebelum masa penjajahan Belanda, rumahnya menjadi kantor Palang Merah Indonesia (PMI). Waktu itu, tahun 1930. Otomatis, ia berkumpul dan bergaul dengan para mantri kesehatan. Hingga akhirnya, menjadi orang yang piawai menyunat. Dalam perjalanannya, Bong Supit Pak Darmo pernah menyunat tokoh-tokoh nasional, termasuk orang-orang penting di Jogja. Saat menjadi bong supit, Pak Darmo dan anak-anaknya mengedepankan ibadah dan aspek sosial.

Dalam pandangan Pak Darmo, menyunat merupakan pekerjaan mulia yang berarti mengislamkan orang. Saat itu, ia menggunakan alat gunting dalam menyunat. Namun, seiring perkembangan teknologi, alat-alat itu tidak dibutuhkan lagi. Kini, Bong Supit Pak Darmo mengoperasikan alat modern dalam menyunat. Alat yang digunakan untuk memotong tidak lagi menggunakan gunting, tapi sinar laser.

Penggunaan sinar laser terbukti mampu meminimalkan rasa sakit yang diderita pasien. Karena saat sinar tersebut dioperasikan, kulit tidak mengeluarkan darah. Hingga tahun 80-an, bocah yang disunat mencapai puluhan orang per hari. Karena waktu itu, patokan untuk menyunat menggunakan kalender Jawa. Tetapi, para orangtua sekarang menyunatkan anak-anaknya pada liburan sekolah. Karena itulah bocah yang disunat ketika sekolah tidak libur, tidak banyak. Jumlahnya 2-3 orang per hari. Namun, saat liburan sekolah, jumlahnya mencapai ratusan orang per hari.