Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2009

Ayeran

Istilah yang dikenakan bagi para kuli penggarap tanah, yang merupakan kewajiban kerja bakti kepada bekel, patuh, dan raja untuk pekerjaan rumah tangga. Umumnya ditujukan khusus bagi kaum wanita, sebagai bentuk baktikepada tuannya, dengan membantu memasak, membersihkan rumah dan pekarangan, danlain-lain.

Asyhari Marzuki, Kh

Pengasuh Ponpes Nurul Ummah, lahir di Giriloyo, Imogiri, Bantul, 10 November 1942.

Astana

Sebutan lain Pasareyan Agung. Di beberapa tempat, terutama di luar pusat kerajaan Mataram, kata astana juga masih digunakan untuk menyebut kompleks makam, khususnya makam lama.

Asem, Pohon

Jenis pohon yang biasa ditanam di halaman rumah tradisional Kotagede. Memiliki nama ilmiah...... Kata asem disamakan dengan kata kesengsem yang artinya terpikat.

Asok Tukon

Penyerahan sejumlah benda sebagai tanda bantuan dari pihak keluarga pria untuk persiapan acara perkawinan. Tanda penyerahan harta kekayaan dari pihak pria kepada pihak wanita, berupa uang, bahan pangan, perkakas rumah tangga, ternak (sapi, kuda, kerbau) yang diserahkan seminggu sebelum upacara pertemuan kedua pengantin. Proses ini disebut juga srakah atau sasrahan yang merupakan mas kawin.

As’ad Humam

Muballig, penyusun buku Iqro dan pelopor Gerakan TK Al Qur`an di Indonesia. Akrab dipanggil Pak As, lahir di Koategede, 1933 dari pasangan H. Humam bin H. Siradj dan Hj. Dalimah binti Somoharjo. Setamat SD Muhammadiyah Kleco, Kotagede tahun 1948, melanjutkan ke Muallimin Muhamaadiyah Kotagede, namun hanya sampai kelas I. Ia lebih suka mengikuti kakak ipar sekaligus gurunya, Kyai Su`aman habib yang penghulu di Kota Ngawi. Setamat SMP di Ngawi, menamatkan SGA Muhamamdiyah, namun hanya sampai kelas I, karena menderita pengapuran pada tulang belakangnya, sehingga harus dirawat selama 1,5 tahun di RS Bethesda.
Sekalipun kurang beruntung dalam pendidikan formal, namun ia terus mengaji di berbagai lembaga, antara lain Masjid syuhada, Masjid Besar Kauman dan Ponpes Al Munawwir, Krapyak. Di luar itu, ia adalah seorang yang tekun belajar secara otodidak. Kiprahnya dalam memberikan pembelajaranmembaca Al Quran sudah dimulai sejak tinggal di Ngawi, hingga kembali ke Kotagede dan mengajar mengaji anak-anak di kampung Selokraman. Kelompok pengajian itu dinamai AMIN (=Aku Mesti Iso Ngaji). Gerakan ini meluas hingga tahun 1953 terbentuk PPKS (=PersatuanPenajian Anak-anak Kotagede dan Sekitarnya).
Tahun 1973, di rumahnya ia mendirikan Mushalla Baiturahman, tempat a menajar anak-anak mengaji dan mengujicobakan berbagai sistem dan metode pengajaran yang menjadi idenya. Ia berkeinginan memperbaharui sistem pengajian tadisional yang kurang menarik dan terasa lamban, sehingga diperlukan waktu 2-3 tahun bagi seorang anak untuk bisa baa Al Quran. Hingga tahun 1983, bertemu dengan anak-anak muda yang memiliki keterpanggilan yang sama dalam menggerakkan pengajian anak-anak. Anak-anak muda yang jumlahnya 17 orang, dihimpunnya dalam satu wadah yang diberi nama Team tadarus Angkatan Muda masjid dan Mushalla (disingkat Team Tadarus AMM).

Fokus darikegiatan tim ini adalah menggerakkan agar setiap masjid dan mushalla terselenggara unit-unit jamaah tadarus dengan pola kegiatan yang sama minimal seminggu sekali dengan sistem tadarus keliling. Aktifitas tim ini terus berkembang hingga tahun 1985, tidak kurang dari 600 jamaah bisa menikmati pembinaan. Dari berbagai diskusi dan kajian, yang dilakukan Pak as dengan Tim Tadarus AMM, salah satu hasil lain dari tim ini adalah mengupayakan satu lembaga pendidikan Al-Qur`an yang unggul, dalam wadah TK Al Quran. Dan pada puncaknya, pada tahun 1989 berhasil disusun buku ”IQRO”, suatu tuntunan belajar membaca AlQur`an yang mudah, cepat, dan praktis.

Karena kesehatannya pula, Pak As meninggal dunia pada.tahun 1996. Atas kepeloporan dan ketokohannya, Pak As menerima Piagam Penghargaan sebagai Pembina Tilawatil Quran di Indonesia dari Menteri Agama RI pada tanggal 3 Januari 1992. Dan bersamaan dengan pembukaan FASI IV, tanggal 11 Juli 1999di Istana Bogor, Presiden BJ memberikan penghargaan kepada pak As atas kepeloporannya menggerakkan pendidikan Al Quran di Indonesia.

Arya Penangsang, Adipati

Ia adalah putra Arya Mataram dan merupakan murid kesayangan Sunan Kudus, yang menginginkannya agar ia menjadi penerus dan pemimpin kasultanan Demak berikutnya. Seorang penguasa wilayah timur yang berkedudukan di Kadipaten Jipang Panolan pada periode Keraton Pajang. Adipati Arya Penangsang bertugas sebagai koordinator bupati mancanegara wetan. Cakupan Kadipaten Jipang adalah wilayah mancanegara wetan. Posisi geografis kadipaten ini adalah di barat daya Surabaya.

Yang bekepentingan agar Arya Penangsang tersingkir adalah Sultan Hadiwijaya, Ki Gede Mataram dan Ki Juru Martani. Oleh karena itu mereka membuat strategi untuk mengalahkan Arya Penangsang, karena ia terkenal sakti, dan merupakan murid utama Sunan Kudus, senapati perang kerajaan Demak, sehingga tidak satu orangpun berani berhadapan langsung dengannya.

Satu saat kuda kesayangan Arya Penangsang, Gagak Rimang, ditangkap dan kemudian kupingnya dilukai, lalu dikembalikan ke kandangnya. Mengetahui hal itu, Arya Penangsang menjadi sangat marah, dan langsung mencari dan mengejar orang yang dianggap bertanggung jawab.

Karena diketahui pihak yang bertanggung jawab lari ke tepi Bengawan Sore, maka pergilah Arya Penangsang mengejarnya. Di sana pasukan Ki Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Juru Martani sudah menunggu. Pada saat itu Danang Sutowijoyo (Panembahan Senapati)), anak Ki Gede Mataram sudah menunggu di balik semak semak di sebrang kali opak.

Pada saat Arya Penangsang sudah tiba di pinggiran Kali Opak, di sebrang kali dilepaskan kuda betina. Oleh karena itu, Gagak Rimang, tanpa bisa dikendalikan langsung mengejar kuda betina tersebut dan menyebrangi Bengawan Sore.

Di seberang kali, dan telah menunggu di balik semak semak, Danang Sutowijoyo sudah siap menghunuskan pusakanya, tombak Kyai Plered ke perut Arya Penangsang. Setelah dihunuskan, Arya Penangsang terjatuh dengan usus terburai. Karena sakti, Arya Penangsang seketika bangkit lagi, dan melilitkan ususnya di kerisnya, Setan Kober.

Begitu dalam jarak dekat ia menghunuskan kerisnya ke Danang Sutowijoyo. Tetapi ia lupa, ususnya dililitkan di kerisnya, dan kemudian tergores oleh kerisnya sendiri. Arya Penangsang tewas seketika, sehingga Danang Sutowijoyo tidak sempat terhunus keris Setan Kober.

Arya

Salah satu bentuk gelar sebutan (predikat) kepriyayian dalam masyarakat feodal Jawa, sebagaimana juga istilah adipati, tumenggung, panji, ngabehi, demang dan rangga. Biasanya merupakan istilah pelengkap dalam suatu jabatan, misalnya Pangeran Adipati Arya, namun dapat juga berfungsi tunggal untuk penyebutan nama, misalnya Arya Penangsang.

Arang

Jenis bahan bakar pokok baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri berskala kecil, khususnya logam. Berasal dari kayu yang dibakar hingga berwarna hitam, bahannya bisa berasal dari pohon atau kayu sonokeling, sambikukun, asem, cemara, dan jati.

Kayu sambi kukun dianggapsebagai bahan baku yang dapat menghasilkan arang kualitas terbaik. Kayu sambi kukun yang yang sudah dibuat arang akan berwarna hitam mengkilat, ketika dipegang atau diusap, arang jenis ini tidak akan mengotori jari tangan. Di samping itu memiliki bobot yang lebih berat disbanding dari jenis kayu lain, sehingga dalam kemasa penjualannya biasanya diwadahi dalam keranjang paling kecil, namun dengan harga jual paling tinggi.

Pusat penjualan arang terdapat di Pasar Imogiri, dengan hari pasaran Senin dan Jumat. Meskipun kiriman yang berasal dari Gunung Kidul berlangsung setiap hari, namun berdasarkan tradisi barang hanya ditumpuk menunggu datangnya transaksi pada hari Senin atau Jumat.

Apem

Jenis makanan tradisional, nama apem merupakan saduran bahasa Arab "Affan", yang bermakna ampunan. Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Bahan utamanya adalah tepung beras, menjadi bahan utama pembuatan apem ini. Untuk afdolnya, mereka menumbuk sendiri, beras yang akan dijadikan tepung. Alu, sebagai penumbuknya, dan lumpang adalah wadahnya. Dua orang wanita biasanya dengan sabar menumbuk butiran-butiran beras, menjadi serpihan halus, tepung beras.

Adonan apem sudah dibuat pada pagi harinya, hingga pada siang harinya dapat dijemur supaya dapat mrusuh (mengembang). Pembuatan apem menggunakan kuah tape ragi, atau cukup ditelateni secara ngebluk (mengaduk dengan tangan) sampai mrusuh, diinapkan semalam supaya mengembang.

Apem yang dibuat pertama kali diberi tindhih uang. Bila wajah atau penggorengan apem yang lain sudah ditaruh diatas anglo atau bara api sudah mulai memanas, api itu diceburi kemenyan dan dibacakan rapal (doa) seperlunya. Wajan diolesi dengan minyak kelapa, sesudah itu adonan dimasukkan dengan irus kecil, di atas adonan yang pertama diletakkan uang logam yang kemudian ditutupi dengan potongan daun dadap srep (Erythriae Fusen Lour Fil). Bila bagian atas apem mulai mengering dan berlubang-lubang kemudian dibalik. Dengan begitu bila nanti apem sudah masak, uang dan daun dadap srep tetap melekat pada apem. Apem yang terakhir (adonan penghabisan) pembuatannya sama seperti pada permulaan (memakai uang logam yang ditutupi dengan daun dadap srep) disertai membakar kemenyan.

Menyediakan apem untuk selamatan orang meninggal harus dibuat gasal, jumlah sesuai dengan waktu nyurtanah dan menurut jumlah tetangga dan sanak saudara yang akan kenduri selamatan itu. Umumnya paling sedikit 15 tangkep (= 30 lirang/biji) ditambah satu. Yang satu ini untuk memberi bagian kepada yang perlu. Selanjutnya bila mengadakan selamatan banyaknya apem lalu ditambah dengan satu. Jadi kalau Nyurtanah 31, tiga harinya menjadi 32, tujuh harinya 33, demikian seterusnya.

Apem disajikan bersama dengan dua macam panganan ketan dan kolak. Kolak dibuat dari ubi jalar dan pisang raja, diwadahi masing-masing satu sudhi. Apemnya setiap satu sudhi berisi apem satu lirang. Untuk mengurangi pemakaian sudhi apem dapat ditumpangkan di atas ketan. Ketan, kolak, apem merupakan wujud tritunggal untuk memulikan leluhur yang mesti harus ada di dalam rangkaian selamatan orang yang meninggal.

Apanage

Istilah apanage lebih komunikatif daripada lungguh. Karena raja adalah pemilik tanah seluruh kerajaan, maka semua hasil bumi juga merupakan hak milik raja, sedang petani yang mengerjakan tanah Narawita dan tanah apanage mendapat bagian hasil dari tanah itu. Petani sebagai penggarap harus membayar pajak berupa hasil tanah yang dikerjakan dan tenaga kerja mereka. Upeti dan pajeg dari mancanagara digunakan untuk membiayai rumah tangga istana, sentana, narapraja, dll.

Tanah apanage dibedakan menjadi tanah narawita, tanah apanage untuk sentana dan narapraja. Tanah-tanah narawita menghasilkan bahan pangan, kudapan dan bahan-bahan yang diperlukan oleh istana.

Antefiks

Dari antefix

Istilah untukmenyebut unsur dekoratif tegakan yang difungsikan sebagai penutup atau pengakhiran ujung bubungan atap, baik bubungan atas maupun ujung jurai. Ornamentasi ragam hias semacam kadang juga direpkan pada peralihan bagian bangunan, misalnya antara badan dengan kaki atau dengan atap. Dalam batas tertentu, penggunaan antefiks pada pelipit peralihan antar bagian bangunan juga berfungsi mengurangi kesan kaku pada keseluruhan bangunan.

Motif hiasan kuno ini merupakan hasil budaya yang berkesinambungan dari masa klasik, baik di barat maupun timur, tetapi tetap hidup sampai sekarang. Pada masa itu, hisan antefiks merupakan elemen bangunan yang dominan pada bangunan candi.

Antefiks ini menjadi salahs atu unsur ornamen yang banyak didapati pada beberapa bangunan rumah tradisional di Kotagede, maupun berbagai ornamen yang ada pada bangun-bangunan Keraton Mataram. Secara khusus, di Kotagede antefiks menjadi ciri khas bangunan-bangunan gerbang di komplek Mesjid Agung Mataram, Pasarean Agung, serta kompleks Sendhang Seliran.

Penggunaannya pada ujung-ujung tepian atap gapura sebagai bungkak menyiratkan aplikasi seni Awang uwung, sebagaimana banyak diterapkan pada bangunan-bangunan di Jawa bagian selatan.
Secara tekhnis, unsur bagian ini tidak memiliki fungsi karena keberadaannya lebih sebagai unsur dekoratif. Demikian pula di Kotagede, keberadaannya yang cukup dominan pada kompleks Mesjid dan Pasareyan Agung pada prinsipnya juga mempunyai fungsi dan kedudukan yang cenderung sebagai unsure dekoratif.

Anjap

Peralatan rumah tangga tradisional yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari bahan pecak belah dan untuk almari makan. Anjap berbentuk rak yang bersusun yang digabungkan dengan almari yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Anjap berbentuk persegi dan terbuat dari kayu. Anjap biasa diletakkan di dapur.

Angsang

Peralatan rumah tangga tradisional, yang berfungsi sebagai alat untuk mengukus makanan yang terletak di dalam soblog. Angsang berbentuk lingkaran dan pada bagian tengahnya terdapat lubang-lubang kecil. Angsang terbuat dari seng atau aluminium. Ukuran diameter angsang sama dengan diameter ukuran soblog. Angsang yang tidak dipakai diletakkan dipaga atau rak.

Anglo

Peralatan rumah tangga tradisional, dalam bahasa Indonesia kadang disebut tungku berbahan bakar arang kayu, memiliki peranan penting dalam peralatan dapur bagi masyarakat Jawa di masa lalu. Begitu juga dalam proses pembuatan batik, sebagai tempat memanaskan lilin/malam.

Pada saat ini memang masih ada sebagian masyarakat Jawa yang menggunakan alat ini, namun sudah berkurang. Sebagian dari mereka sudah berganti ke peralatan yang lebih modern dan lebih praktis seperti kompor minyak, kompor gas, atau kompor listrik. Sebab peralatan modern memiliki keunggulan di bidang keawetan, kepraktisan, dan kebersihan. Sementara anglo sebagai alat dapur tradisional memang kurang awet, praktis, dan bersih.
Anglo termasuk peralatan gerabah yang terbuat dari tanah liat. Penmbuatannya pun tidak terlalu rumit bagi perajin yang sudah biasa membuatnya. Karena tidak banyak mengalami proses atau tahapan. Setelah melalui pencetakan tradisional, anglo dikeringkan di bawah terik matahari. Setelah kering tentunya dibakar bersama-sama jenis gerabah lainnya seperti kwali, kendhil, layah, dan sebagainya. Setelah diangkat dari perapian yang sudah dingin dan sudah dibersihkan dari kotoran abu pembakaran, maka anglo siap dipasarkan.

Angkur

Disebut juga lowahan yang merupakan sela atau jarak antar bangunan, berupa tanah antar dinding pagar bata Pasareyan Agung Kotagede. Angkur tersebut ada beberapa bagian (godhangan) sebagai para pengunjung yang berziarah di tempat tersebut.

Angka Wolu, Permainan

Permainan tradisional khas Kotagede. Permainan ini dilakukan oleh sekelompok anak, dimana makin banyak makin ramai), dengan membentuk angka wolu (angka delapan).Setelah melalui undian, akhirnya ada seorang yang kalah, sehingga dia dadi (jadi). Anak ini berdiri di tengah antara dua lingkaran yang membentuk angka delapan tadi.

Selanjutnya dengan mengikuti bentuk angka delapan tadi anak yang dadi harus mengejar, boleh dalam arah yang berlawanan agar bisa menyentuh kelompok anak yang ada di dalam lingkaran angka delapan tadi.Apabila da yang tersentuh, maka ia akan menggantikan untuk melakukan hal yang sama mengejar kelompok di dalam lingkaran angka delapan tadi.

Angker

Tempat seram dan tidak semua orang dapat menjamahnya karena dianggap mempunyai kekuatan gaib. Hal ini lebih berkaitan dengan tempat-tempat magis. Istilah lain yang sering digunakan adalah wingit atau sangar. Tempat-tempat wingit di Kotagede yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib dan terkesan angker, misalnya: bekas bangunan Keraton Mataram, Kerta, dan Plered.

Angger-angger

Peraturan yang harus ditaati oleh penduduk yang bermukim di Keraton Mataram. Sebagai contoh, setiap penduduk akan melakukan perjalanan, harus membawa laying padhang (surat keterangan). Angger-angger ini merupakan upaya untuk menertibkan dan memudahkan pengawasan penduduk yang bepergian dari satu daerah ke daerah yang lain.

Andong

Alat transportasi tradisional berupa kereta yang ditarik oleh kuda. Kehadiran andhong di Kotagede memberikan ciri khas dan cukup mendominasi moda angkutan umum bagi para pedagang dan pengunjung yang terkait dengan Pasar Gedhe Kotagede. Ciri fisik andhong adalah dasarnya terbuat dari kayu dengan perkuatan pelat-pelat besi, penutup atas dari kulit atau deklit dengan rangka besi tempa, beroda empat dua jejak, dimana semua roda terbuat dari kayu dan roda depan berukuran lebih kecil daripada belakang. Untuk kenyamanan, antara roda dan badan kereta dihubungkan dengan pegas yang bisa menyerap goncangan saat bergerak di jalan yang tidak rata. Komponen yang khas adalah lonceng dan lampu kuningannya. Tempat duduk terdiri dari dua lapis hadap depan, depan dan belakang, dan tersedia dek bagase di belakang.

Andhong biasanya ditarik oleh dua ekor kuda, namun pada saat kuda semakin kurang populer belakangan ini sebagian hanya ditarik satu kuda. Pengemudinya disebut kusir, duduk pada kursi depan kanan. Kapasitas penumpang normalnya adalah empat orang. Pada saat tidak beroperasi, andhong disimpan di gedhogan, sebenarnya kandang kuda yang digunakan sebagai garasi andhong. Sedangkan bengkel khusus andhong untuk wilayah Kotagede berada di kampung Jarakan.

Andhong memiliki penampilan yang anggun, karena merupakan turunan dari model kereta kerajaan (kereta kencana), yang banyak diilhami bentuk kereta kuda dari Barat. Oleh karena itu andhong tentu muncul lebih kemudian dibanding dengan cikar yang lebih asli. Andhong hanya dijumpai di kota-kota besar bekas kerajaan Jawa, berbeda dengan dhokar yang bisa tersebar di kota-kota kabupaten hingga kota kecamatan. Karena itu andhong bisa banyak dijumpai di Kotagede sebagai bekas ibukota Keraton Mataram, sekaligus bagian dari kota Yogyakarta sebagai kota kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Popularitas andhong tetap dapat bertahan seiring dengan perkembangan teknologi transportasi massal dewasa ini. Andhong sekarang cenderung dimanfaatkan sebagai angkutan wisata lokal. Kepemilikan andhong bukan monopoli orang Kotagede, bahkan lebih banyak dimiliki orang luar, misalnya dari Manggisan. Di Kotagede andhong masih cukup fungsional digunakan masyarakat umum, khususnya pedagang pasar. Andhong hilir mudik dari pasar Kotagede ke Pasar Beringharjo di pusat Kota Yogyakarta mengangkut ibu-ibu pedagang dengan segala barang dagangannya.